Hari Jumat sore, gw dan 2 temen gw, Teddy + Cun – Cun nongkrong di depan sekolah nunggu mood pulang (pulang ke rumah kok nunggu mood ? Ada – ada aja -_-“). Waktu kita ngobrol – ngobrol, Teddy tiba – tiba bilang kalo kompleks Kanisius disebut kampus Kolese Kanisius. Kenapa harus kampus ? Kenapa bukan disebut kompleks, gedung atau semacamnya? Lagipula, secara status Kolese Kanisius adalah sebuah sekolah, bukan universitas. Dan di wikipedia tertulis bahwa

“The campus is the land on which a college or university and related institutional buildings are situated.”.

College (atau Kolese di Bahasa Indonesia)? Kenapa harus disebut kolese ? Kenapa tidak dengan “sekolah” ? Apa yang berbeda antara “sekolah” dan “kolese” ? Lagi – lagi di wikipedia gw menemukan bahwa

College (Latin collegium) is a term most often used today to denote an educational institution. More broadly, it can be the name of any group of colleagues (see, for example electoral college, College of Arms, College of Cardinals). Originally, it meant a group of persons living together under a common set of rules (con- = “together” + leg- = “law” or lego = “I choose”); indeed, some colleges call their members “fellows“.

Bahkan, di page yang sama gw menemukan :

“In Indonesia the term kolese refers to a school that be organized by Jesuits. For example, Kolese Kanisius, Jakarta.

Kayaknya yang edit section itu anak CC juga… :p

Kemudian, kolese juga bisa disebut sebagai kumpulan “colleagues”. Apa itu “colleagues (kolega) ?”

“Colleagues are those explicitly united in a common purpose and respecting each other’s abilities to work toward that purpose.

Dari fakta – fakta di atas, dapat saya simpulkan sementara bahwa di Kolese Kanisius peserta didik (bukan “siswa”) memilih (I choose) untuk masuk ke Kolese Kanisius, kemudian yang bersangkutan berada di bawah aturan, visi dan misi yang telah ditetapkan oleh Kolese Kanisius dan bersama – sama dengan koleganya saling menghormati kemampuan satu sama lain untuk mencapai tujuan bersama.

Sebenarnya kesimpulan di atas sedikit berbau deduktif. Di kehidupan nyata gw sebagai peserta didik Kolese Kanisius, hal – hal di atas benar – benar ditekankan. Seperti kebebasan memilih dan tanggung jawab atas pilihan yang telah saya ambil, serta semangat untuk menghormati kemampuan orang lain. Selain itu, visi dan misi serta aturan di Kolese Kanisius memberi pedoman bagi para kolega peserta didik untuk mencapai tujuan yang dimaksud.

Dan gw juga merasa bahwa arti “kampus” yang disandang oleh Kolese Kanisius memiliki arti bukan fisik semata, seperti artian konotatif “home” dan “house”. Gw ngerasa “kampus” lebih dari sekadar gedung berlantai dengan segala fasilitasnya, kampus gw rasa lebih sebagai wadah suatu komunitas, komunitas Kolese Kanisius, di mana anggotanya memiliki keterikatan jiwa di sana, semuanya terlibat penuh di dalamnya sebagai satu pribadi yang utuh yang saling menghargai yang ingin berkembang menjadi manusia dewasa. Kampus tidak hanya sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan akademik, tapi lebih luas ke arah pengembangan pribadi. Apa bukti konkretnya ? Di kampus Kolese Kanisius para peserta didik mengikuti kegiatanan ekstrakurikuler, bukan sebagai sarana untuk mendapatkan angka semata, tetapi untuk berkembang.

Jadi, jelaslah bahwa kenapa Kolese Kanisius lebih dikenal sebagai kampus. Karena, di sanalah para peserta didik berkembang secara utuh menjadi manusia yang dewasa, beriman dan berilmu. AMDG