Poem


Damn great song, Godbless original, rearranged by Erwin Gutawa, sung by Andy-RIF and Roy-Boomerang, packed in Erwin Gutawa Rockestra album.

cde018

Kehidupan

===================================

Kukejar prestasi itu
Seribu langkah ku pacu
Cepat lari
Ya aku lari!
Cepat lari
Tunggu kutarik nafasku
Kubasuh dua wajah ini
Ayo lari!
Hei Hei tunggu dulu
Ayo lari!
Tak dapatkah sejenak
Hentikan ambisimu
Lihatlah peluhku
Tengoklah hatiku
Seribu satu problema
Menyesak didalam dada
Apa itu susu Anak ku
Apa itu
Tak kau hiraukan mereka
Walau merka walau walau walau
Walau apa walaupun lapar
Walau apa
Masih aku bertahan walau aku paksakan
Sampai batas waktu keadilan datang
Oh pikirkan renungkan pikirkan
Bilakah mereka semua kau pikirkan
Wow.o..o..wow..oo3x
Rebungkan pikirkan renungkan pikirkan
Bilakah mereka semua bilakah mereka semua
Kau pikirkan

===================================

Versi aransemen ulang oleh Erwin Gutawa dibuka oleh permainan biola (atau mungkin Cello? CMIIW) yang sangat indah dan energik, di bagian tengah brass mulai menunjukkan taringnya. Tapi menurut gw yang paling impresif itu liriknya yang mungkin jika dilihat sekilas terasa klise, tetapi kalo menurut persepsi gw, ini ada sebuah kelompok yang dipimpin oleh seseorang yang ambisius dan berusaha mengejar tujuan tapi dia ga memikirkan orang – orang yang dia pimpin. Gw si menangkap inti dari lagu ini adalah ajakan berefleksi bagi para pemimpin – pemimpin, apakah mereka memikirkan orang – orang yang mereka pimpin?

Intinya, great song! Recommended buat yang suka lagu – lagu rock tua dan aransemen orkestra Erwin Gutawa. Bisa dicari di toko CD dan kaset terdekat. Stop piracy! Karya seindah ini layak mendapat penghargaan

Aku susuri jalan ini

Di sini, kudengar kulihat kurasakan gegap gempita dari depan sana

Gapura raksasa berukir “KM 80” tampak di pelupuk mata ini

Ingin ku segera masuk ke dalamnya, merasakan kemeriahan itu

Berbatu

Aku di persimpangan jalan

Orang kata benarlah jalan ini, tuju pada keindahan

Keindahan yang sungguh tidak aku impikan, hanyalah sebuah obligat semata

Tak lah ada mudahnya masuki jalan ini

Tekadku bulat, peras keringat

Berat……..

Aku tiba di sini

Di jalan ini, di titik awal

Aku masuki persimpangan itu, awal dari segalanya

KM 75 : titik awal

Aku buta, aku bisu, aku tuli, aku hanyalah patung

Segalanya aku tak paham, hanya bisa diam di persimpangan

Aku tak bisa menatap masa depan

Membelenggu langkah

Terdiam

dan

Mati suri

Cahaya indah di depan sana

Amat kuat

Luar biasa

Perkasa, angkatku dari kematian semu

Kupastikan

Kumantapkan

Tekadku

Raih cahaya indah nun jauh di sana

Mereka pun tuju ke cahaya itu

Aku bersama mereka

Ke sana

Ke keindahan bagai firdaus

Bagai arakan tentara di medan perang

Mantapkan langkah

Menuju KM 78

Kami terluka

Hilang

Tewas

Lenyap

Tercerai berai

Korban kerasnya jalan ini

KM 78 : persimpangan kedua

Yang tersisa tiba di persimpangan

Tegar, hadapi tantangan, kuberanikan pijak kaki di KM 78

Kami beranikan pijak di KM 78

Tak dinyana, tak kukira, tak kusangka

KM 78

Aku alami

KM 78 tak kukira

Usahaku seret kakiku, tumpah darah, mereka telah tewas, Nak

Aku akan tewas di jalan ini

Maut menghampiri

Kau lawan

Ajal menghampiri di depan mata, Nak

Hanya jika kau lengah

Hanya jika kau tertidur sesaat, Hanya jika kau…….

Lari dari dirimu

KM 79 : Setitik air segar

Sangat beratlah jalan ini

Oleh rasa iri, tak tahu diri

Mereka hanya meninggalkan dirinya sesaat

Mereka tewas

Arwah mereka…. Telah hilang….. Dari jalan ini…..

Mereka tetaplah pejuang jalan ini

Kan kuingat kau kawan

……….

Aku susuri jalan ini

Di sini, kudengar kulihat kurasakan gegap gempita dari depan sana

Gapura raksasa berukir “KM 80” sudah tampak di pelupuk mata ini

Ingin ku segera masuk ke dalamnya, merasakan kemeriahan itu

[Amat] berbatu

[bukan hanya berbatu bodoh !!]

[Mereka telah tewas, tak karena batu]

[Diri mereka menewaskan mereka]

Mereka goyah, nak

Apa sebetulnya jalan ini ?

Inikah jalan hidupku ?

Haruskah kulalui jalan yang teramat kejam ini ?

[Dalam hati ku syukur]

[Tempaan jalan ini…]

[Kekejaman jalan ini…]

[Bawa ku ke sana]

[Ke cahaya itu]

[Aku semakin dekat]

[Kan kuraih]

Jelang KM 80

Sejenak…

Aku menunduk, berlutut, bersujud

Kubisikkan pada jalan ini

Selamat ulang tahun, kolese kanisius

Ad Maiorem Dei Gloriam

 


Puisi sederhana buat Canisius’ 80th anniversary…